DISKURSUS ETIKA: Dalam Filsafat Islam
Penulis: Avisena Perdana Putra dkk.
Editor: Avisena Perdana Putra
Cover & Layout: Em Yudi
Ukuran & Jumlah Halaman: 15.5 x 23 cm, vi + 201 hlm.
Sipnosis
Jika Nietzsche mengusung tesis etika sufistik sebagai alternatif terakhir dan sekaligus ideal sesuai fitrah kebebasan manusia. Justru dalam konteks Islam, hal itu telah menjadi tawaran paling awal melalui sosok nabi Muḥammad. Pada era berikutnya, Ketika kebebasan intelektual begitu diagungkan dalam perdaban Islam, maka upaya-upaya manusia untuk membangun prinsip-prinsip kebaikan (the will of truth) sangat dihormati. Dari situ, muncul berbagai aliran pemikiran dalam Islam menjadi bukti bersemainya kebebasan untuk membangun nilai-nilai kebaikan. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kekuasan juga ikut serta dalam melakukan intervensi atas prinsip-prinsip nilai. Oleh karena itu, inspirasi Nietzsche yang sering dituduh mengobrak abrik common sense Barat pada dasarnya lebih merupakan upaya diagnosa atas berbagai problem epistemic-nilai-sosial Barat yang ia tawarkan. Oleh karena itu, dalam konteks Islam, diagnosa Nietszche, kurang lebih sama dengan diagnosa yang disampaikan oleh al-Jābirī, bahwa pengetahuan kritis atas sejarah struktur nalar etik Islam dapat membersihkan kerikil-kerikil yang selama ini telah menghambat perjalanan keagamaan Islam menuju visi utamanya raḥmatan li al-'ālamīn.