THINK OUTSIDE THE BOX: Membebaskan Agama dari Penjara Konservatisme

THINK OUTSIDE THE BOX: Membebaskan Agama dari Penjara Konservatisme

Penulis: Mun'im Sirry

Desain Sampul: Aldila Dwiki

Tata Isi: M Santosa

Jumlah halaman dan ukuran: xxii + 466 hlm; 13 x 19 cm

Tahun: 2024

 


Sipnosis

Buku ini mendiskusikan tema yang cukup beragam, saya berharap benang-merahnya cukup jelas. Yakni, sebuah upaya untuk “think outside the box.” Sekali lagi, “perspektif alternatif/baru” yang coba ditawarkan dalam buku ini dibangun dan dikembangkan dari, dan berpijak pada, “the shoulders of giants.” Termasuk cara saya memotret dan memproblematisasi pandangan-pandangan umum yang diwariskan oleh ulama-ulama agung terdahulu. Bagi saya, masa lalu bukan untuk ditelan mentah-mentah secara taken-for-granted, diterima tanpa kritik. Penghormatan kita terhadap kekayaan intelektual terdahulu dapat mengambil banyak bentuk.

 

.

Endorsment

“Dari perjumpaan dan pertemanan saya dengan Prof. Mun'im, saya menangkap setidaknya dua hal senantiasa beliau sadarkan dan elaborasi dalam semua karyanya. Yaitu kesadaran historis dan kepekaan epistemologis. Kesadaran historis, seperti ditegaskan Prof. Mun'im, diperlukan agar kita mengetahui asal-usul kemunculan suatu doktrin keagamaan, sedang kepekaan epistemologis membantu kita melihat kompleksitas di balik sesuatu yang tampak sederhana di permukaan, antara lain karena Prof. Mun'im mampu mengelaborasi dua hal penting tersebut dalam karya-karyanya, saya sangat senang berteman dan berdiskusi jarak jauh dengan beliau.”

–Prof. Abad Badruzaman, Dosen Tafsir UIN SATU Tulungagung

 

“Di dalam buku yang sarat dengan penjelasan secara akademik, ulama asal Madura yang kini mengajar di University of Notre Dame, Indiana ini, mengupas berbagai hal yang kerap menjadi debat hangat di kalangan masyarakat awam. Singkatnya: Anda bertanya, Dr. Mun'im Sirry menjawab. Buku yang menarik ini perlu dimiliki dan dikaji oleh orang-orang awam seperti saya.”

–Sri R. Khadijah Hassanah Lawson, MBA

 

“Nilai lebih buku ini, salah satunya, terletak pada gaya penulisan pak keh Mun'im Sirry yang 'renyah' sehingga pembaca umum dapat memahami isinya. Ini menandakan ia adalah orang yang sangat menguasai materi kajian karena dapat membumikan bahasa akademik yang kaku dan njelimet menjadi lentur dan sederhana. Gagasan yang disampaikan merupakan hasil pembacaan dan pemahamaan dari literatur yang tersedia.”

–Sam Ardi, Mahasiswa Program Doktor