Ke Mana Arah Integrasi-Interkoneksi Studi Keislaman? Merumuskan Kembali Mazhab Sapen melalui Telaah Turas Islam

Judul : Ke Mana Arah Integrasi-Interkoneksi Studi Keislaman? Merumuskan Kembali Mazhab Sapen melalui Telaah Turas Islam 
Penulis : Mohammad Yunus Masrukhin, et al.
Editor : Mohammad Yunus Masrukhin
Ukuran : 14 x 20 cm 
Tebal Buku : 291 halaman
ISBN :
 
Perjalanan intelektual sebuah perguruan tinggi tidak cukup diukur hanya dari banyaknya karya ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga dari keberaniannya untuk meninjau kembali fondasi pemikiran yang selama ini membentuk identitasnya. Dalam konteks Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, paradigma integrasi-interkoneksi telah menjadi salah satu penanda penting perjalanan tersebut. Ia bukan sekadar konsep metodologis yang menghubungkan ilmu agama dan ilmu umum, melainkan juga ikhtiar epistemologis untuk membuka ruang dialog di antara beragam tradisi keilmuan. Namun, setelah lebih dari dua dekade diperkenalkan dan dikembangkan, sebuah pertanyaan mendasar patut diajukan: ke mana arah integrasi-interkoneksi studi keislaman hari ini?
 
Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat penting bagi buku Ke Mana Arah Integrasi-Interkoneksi Studi Keislaman? Merumuskan Kembali Mazhab Sapen melalui Telaah Turas Islam. Sejak seminar nasional pada 2002 tentang upaya mempertemukan epistemologi Islam dan epistemologi umum, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi pakar pada 2004, UIN Sunan Kalijaga telah merintis sebuah agenda intelektual yang ambisius. Gagasan yang diasosiasikan dengan M. Amin Abdullah ini berkembang menjadi paradigma integrasi-interkoneksi, yang kemudian dikenal luas sebagai Mazhab Sapen. Paradigma ini menegaskan bahwa pengetahuan keislaman tidak semestinya diproduksi melalui satu disiplin saja, melainkan melalui dialog kritis dan produktif di antara berbagai perspektif keilmuan.
 
Buku ini hadir dengan mengambil posisi yang penting dalam perdebatan tersebut. Alih-alih menempatkan turas sebagai objek yang harus ditundukkan pada suatu ideologi keilmuan tertentu, kumpulan tulisan di dalamnya berupaya mendekatinya melalui apropriasi analitis dan perspektif interdisipliner. Dengan cara ini, tradisi intelektual Islam tidak diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu yang beku, tetapi juga tidak direduksi menjadi sekadar bahan untuk membenarkan agenda keilmuan kontemporer. Turas dipahami sebagai medan pemikiran yang menyimpan keragaman argumentasi, pertarungan wacana, dan kemungkinan penafsiran yang terus terbuka.
 
Buku yang dieditori oleh Muhammad Yunus Masrukhin ini dapat ditempatkan sebagai sumbangan penting dengan menengok kembali turas Islam sebagai penebalan pembacaan bagi proyek Mazhab Sapen ini. Para kontributor dalam book chapter ini dengan serius menggali khazanah turas sekaligus mengontekstualisasikannya dalam studi keislaman di UIN Sunan Kalijaga.
 
Karena itu, buku ini bukan semata-mata upaya mempertahankan atau menolak Mazhab Sapen. Lebih dari itu, ia mengajak kita memikirkan kembali makna dan kemungkinan integrasi-interkoneksi sebagai tradisi intelektual yang terus berkembang. Masa depan paradigma ini bergantung bukan pada seberapa kuat ia dipertahankan sebagai identitas institusional, melainkan pada kemampuannya membuka ruang bagi pembacaan yang lebih mendalam, kritis, dan bertanggung jawab terhadap khazanah Islam.