Suka PRESS Memantik Polemik: Bedah Buku Filologi Judeo-Arab karya Menachem Ali

Yogyakarta, Suka PRESS, penerbit resmi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bekerja sama dengan Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (MIAT) serta Program Magister Studi Agama-Agama (MSAA) UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan Bedah Buku dan Diskusi Ilmiah Filologi Judeo-Arab dan Genealogi Kenabian dalam Wacana Intertekstualitas Al-Qur'an dan Kitab-Kitab Terdahulu pada Jumat (19/6) di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga.

Kegiatan ini mempertemukan tiga akademisi dengan latar keilmuan berbeda, yakni Menachem Ali (Universitas Airlangga) sebagai penulis buku, Mun'im Sirry (University of Notre Dame, Amerika Serikat) sebagai pembedah, dan Lien Iffah Naf'atu Fina (UIN Sunan Kalijaga) sebagai penanggap. Diskusi dipandu oleh Muhammad Akmaluddin dan dihadiri dosen, peneliti, mahasiswa, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian pada studi Al-Qur'an, Sejarah agama-agama, dan filologi.

Dalam paparannya, Menachem Ali menegaskan bahwa perkembangan studi keislaman—meliputi studi Al-Qur'an, hadis, sirah, dan tarikh—memerlukan dukungan kajian filologi terhadap teks-teks kuno agar jarak historis antara pembaca modern dengan konteks kemunculan Islam dapat dipersempit. Menurutnya, keterbatasan sumber awal Islam menuntut para peneliti untuk menguasai bahasa-bahasa sumber seperti Ibrani, Suryani, Yunani, dan Latin guna membaca dokumen-dokumen Kristen dan Yahudi yang sezaman dengan periode awal Islam.

Ia menjelaskan bahwa tidak ada teks yang lahir dalam ruang hampa. Setiap teks selalu hadir dalam konteks sosial, politik, dan intelektual tertentu, serta mengandung ideologi dan horizon pengetahuan penulisnya. Karena itu, Al-Qur'an tidak dapat dipahami secara terpisah dari tradisi teks yang lebih dahulu hadir, melainkan sebagai bagian dari dialog panjang dengan tradisi-tradisi sebelumnya.

Salah satu isu utama yang diangkat adalah genealogi kenabian, khususnya hubungan Nabi Muhammad dengan Nabi Ismail. Akademisi dan sekaligus ustaz ini menunjukkan bahwa penyebutan komunitas Arab sebagai keturunan Ismail telah muncul dalam sejumlah dokumen awal melalui istilah seperti Hagarenes, Saracens, dan Ismaelites. Menurutnya, justru perdebatan mengenai validitas hubungan tersebut berkembang pada periode pasca-Islam, terutama pada masa Abbasiyah, ketika pertanyaan mengenai historisitas Nabi Muhammad dan kesinambungan nasab menjadi bagian dari diskursus yang lebih luas.

Menanggapi buku tersebut, Mun'im Sirry memberikan apresiasi atas keberanian Menachem Ali menggarap tema yang relatif jarang disentuh dalam studi Islam di Indonesia. Ia juga memuji produktivitas penulis yang mampu menghasilkan karya akademik di tengah berbagai aktivitas profesionalnya. Namun, Mun'im mengajukan sejumlah catatan kritis, baik dari sisi teknis penulisan maupun substansi argumentasi. Ia menilai gaya penulisan buku masih cenderung repetitif dan kurang memiliki artikulasi yang kuat antargagasan sehingga beberapa kesimpulan tampak tidak sepenuhnya tersambung dengan argumentasi sebelumnya.

Pada aspek metodologi, Mun'im mempertanyakan penggunaan konsep sumber primer dan sumber sekunder yang dipakai dalam buku tersebut. Menurutnya, penentuan status suatu sumber tidak hanya ditentukan oleh usia teks atau waktu hidup penulisnya, melainkan oleh kedekatannya dengan peristiwa yang direkam. Ia juga menyoroti pembacaan terhadap istilah Saracen yang dinilai belum mempertimbangkan secara memadai berbagai teori etimologi yang berkembang dalam kajian sejarah maupun filologi.

Selain itu, Mun'im mengkritisi belum optimalnya pemanfaatan literatur klasik mengenai ilmu nasab serta minimnya pembahasan terhadap Al-Qur'an sebagai sumber penting dalam diskusi hubungan Ibrahim, Ismail, dan genealogi Nabi Muhammad. Menurutnya, relasi antara bangsa Arab dan Nabi Ismail sendiri merupakan tema yang telah lama diperdebatkan dalam tradisi Yahudi, Kristen, maupun Islam.

Di titik Mun'im memungkasi paparannya, suasana diskusi mulai memanas. Potensi perdebatan sengit sudah terasa.

Sebelum ke sesi tanya-jawab, Lien Iffah Naf'atu Fina mengajak peserta melihat diskusi tersebut dari perspektif yang lebih reflektif. Mengutip pemikiran Saba Mahmood, ia menyoroti bagaimana agama-agama modern semakin terdorong untuk membuktikan klaim-klaim teologis melalui metode sejarah. Padahal, menurutnya, metode historis sendiri bukanlah perangkat yang sepenuhnya netral, melainkan lahir dari konteks intelektual tertentu dan membawa asumsi-asumsi epistemologis yang juga perlu dikritisi.

Mbak Lien, sapaan akrabnya, mengingatkan bahwa pertanyaan yang diajukan dalam penelitian sering kali sama pentingnya dengan jawaban yang dicari. Alih-alih hanya memperdebatkan benar atau salahnya suatu klaim historis, para peneliti perlu mempertanyakan mengapa suatu pertanyaan muncul, dari mana asal-usulnya, dan kepentingan intelektual apa yang melatarbelakanginya.

Lien juga mengutip pandangan Majid Daneshgar yang mendorong tradisi studi Islam untuk lebih berani terlibat dalam pembahasan mengenai asal-usul (origins) Islam. Menurutnya, kemampuan mengenali asumsi-asumsi di balik setiap metode dan pertanyaan merupakan keterampilan akademik yang semakin penting dalam pengembangan studi keislaman kontemporer.

Dalam konteks suasana diskusi, Lien terihat mampu menangkap suasana dengan cara mempertanyakan ulang kinerja akademik—yang meskipun tidak ditujukan langsung kepada dua narasumber—untuk merenungi kembali tujuan-tujuan esensialnya. Lien memang tidak secara gamblang mengungkapkan potret perdebatan demikian “sia-sia”, tapi kesadaran kritik dan keberpihakannya pada “kebermanfaatan” di balik perdebatan dapat menyentil peserta juga.

Sesi tanya jawab ternyata dipakai oleh kedua narasumber untuk menuntaskan, mengklarifikasi dan sekaligus memperdebatkan lagi pemaparan sebelumnya. Menachem Ali kembali memperluas dan mempertegas posisinya yang secara terbuka mengkritik ulang Mun’im. Sementara Mun’im sendiri tetap kokoh dengan menarasikan ulang secara lebih elaboratif tentang posisinya dalam tema dan kajian tersebut.

Acara bedah buku ini tidak terasa berjalan hampir tiga jam dengan dukungan antusiasme peserta yang terus bertahan dengan pertanyaan-pertanyaan tajam, kritik dan tepuk tangan. Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan dari peserta. Perbedaan pandangan yang muncul sepanjang forum menunjukkan bahwa kajian filologi, sejarah, dan intertekstualitas kitab suci terus menjadi ruang dialog yang produktif dalam pengembangan studi Islam.

Melalui forum ini, Suka PRESS bersama MIAT dan MSAA UIN Sunan Kalijaga berharap tradisi akademik yang kritis, terbuka, dan berbasis argumentasi ilmiah semakin tumbuh di lingkungan perguruan tinggi serta mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Di bagian akhir ketika dihubungi secara terpisah, Bernando J. Sujibto, direktur Suka PRESS yang sekaligus panitia dalam acara ini, mengapresiasi dan sekaligus menantang untuk membuka ruang diskusi dan kritik lebih lanjut secara deliberatif. “Kami sebagai penerbit resmi dari UIN Sunan Kalijaga akan sangat mendukung tumbuhnya dunia kritik secara ilmiah dan bertanggung jawab. Kita tunggu diskusi seperti ini Kembali di masa mendatang dengan cakupan tema yang beragam pula,” pungkas Cak Bje, sapaan akrabnya.

(Ditulis oleh: Siti Baazegha Busyaina & Tim Suka PRESS)